GMKI Cabang Bengkulu: Kita Harus Menyelamatkan Lingkungan

27 May 2017 15:21:56 || Penulis:PENGURUS PUSAT


GMKI.OR.ID - Bengkulu adalah provinsi yang terletak dipulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Bandar Lampung, Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Provinsi Bengkulu mempunyai pulau - pulau yang potensi wisata maupun keadaan biota lautnya bisa jadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat yang berprofesi nelayan.

Namun seiring perkembangan zaman era globalisasi dan serakahnya manusia, beberapa pulau yang ada di Bengkulu mulai terancam dan hampir tenggelam. Salah satunya adalah pulau Tikus yang berjarak kurang lebih 10 km dari kota Bengkulu. Pulau Tikus ini adalah salah satu pulau terluar di Bengkulu yang dijadikan tempat wisata dan sekaligus tempat nelayan mencari ikan.

Feri, penjaga pulau dan penangkar penyu mengatakan, luas pulau tikus pada zaman dulu sekitar 2 hektar, namun sekarang tinggal 0.8 hektar. Hal ini diakibatkan tidak adanya penahan arus ombak disekitar pantai yang menimbulkan abrasi sehingga daratan pulau mulai tergerus. 

“Selain abrasi, permasalahan ekosistem biota laut juga sangat memprihatinkan. Banyak terumbu karang yang menjadi ikon pulau mulai mengalami kerusakan dan juga semakin sulitnya mendapatkan ikan disekitar pulau” tutur dia.

Purwanto Pasaribu, Bidang Humas Uous Natural Conservation (UNC) GMKI Cabang Bengkulu mengatakan, melihat keadaan ini kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus bergerak untuk menyelamatkan pulau ini. Disamping kita menyelamatkan pulai ini, berarti kita juga menyelamatkan biota laut disini, mulai dari terumbu karang, penyu, kura – kura, dan ikan – ikan lainnya.

“Disini kita bersama dengan Komunitas Mangrove Bengkulu mencoba menyelamatkan pulau - pulau dan pesisir yang ada di Bengkulu diawali dari pulau Tikus. Penyelamatan yang kami lakukan adalah berupa penanaman mangrove disekitar pantai pulau. Adapun metode yang diterapkan yaitu relay encased methodologi (REM). Cara penggunaan metode ini yaitu menggunakan paralon sebagai wadah berkembangnya bibit” Kata dia. 

Purwanto mengatakan, paralon digunakan sebagai wadah bibit mangrove karena pertimbangan  paralon bisa menahan ombak agar tidak merusak bibit mangrove dan juga tahan terhadap air, karena mangrove memerlukan air yang banyak.

“Ini merupakan wujud kepedulian kita terhadap lingkungan, bukan hanya menikmati saja tetapi juga ikut menjaga dan merawat. Penanaman mangrove ini merupakan lanjutan dari penanaman sekitar satu minggu lalu di pulau ini” kata Purwanto.

#BerdamailahdenganSemuaCiptaan (25/4/17)