Risalah Diskusi: Perspektif & Peran Perempuan dalam Alkitab

26 Aug 2017 13:26:24 || Penulis:PENGURUS PUSAT


JAKARTA - Pokja Perempuan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen indonesia mengadakan diskusi dengan tema “Perspektif & Peran Perempuan dalam Alkitab" pada hari jumat, 25 Agustus 2017 di sekretariat PP GMKI.

Alkitab adalah ikon yang tidak boleh dimutlakkan, yakni titik dan koma harus sama, referensinya harus dari kata tersebut. Maka kita harus membaca dalam Kuasa Roh Kudus, diinsafkan bahwa kitab ikon tersebut lahir dari budaya tertentu pada waktu itu, dan perlu pembacaan yang sadar & insaf akan teks itu. Jika Alkitab dibakar, kita tidak merasa dinistakan, kita tidak sedang membakar Firman Allah, sebab Firman Allah adalah kekal. 

Pengalaman laki-laki memandang perempuan merujuk pada Alkitab (Andragogik), karena simbol penulis Alkitab adalah laki-laki. Pengalaman laki-laki dan perempuan itu beda, dan terdapat bias-bias gender yang membuat setiap orang tidak menjadi pengamat yang netral, tidak ada saksi mata yang netral.

Apa yang digambarkan Alkitab tentang Perempuan ?, Lemah ?

Hawa (Perempuan) adalah manusia pertama yang berdosa, dan Adam kemudian terbujuk oleh istrinya untuk berbuat dosa. Itulah sudut pandang penerima Wahyu (penulis) tentang perempuan. Perempuan diingini jadi pemimpin, tetapi ingat perempuan hanya dipimpin. Perempuan akan menjadi perempuan ketika ada laki-laki di sampingnya. Keperempuanannya diutuhkan oleh laki-laki ketika sudah menikah dan atau memiliki anak.  Dalam kisah Abraham, nampak situasi yang sangat patriarkhal. Sarah (istri) menyapa Abraham (suami) dengan sebutan "tuan", dimana tuan adalah sapaan hamba terhadap bosnya.

Tokoh perempuan di dalam Alkitab, seperti Ester, Debora dan perempuan lainnya hadir hanya sebagai pelengkap laki-laki, mereka hadir pada saat relasi tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Apakah harus diprotes ?

Alkitab adalah produk kultur waktu itu, sehingga kita harus menginsaf terlebih dahulu baru kemudian mencari cara untuk mengakali, agar teks itu tidak menindas perempuan melainkan membebaskan. 

Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, perempuan diperhitungkan sebagai benda (properti). Tidak bisa memberikan kesaksian di persidangan.
Yesus menabrak rambu-rambu yang terbangun pada zaman-Nya. Rambu-rambu tersebut adalah:
1. Perempuan tidak boleh bersama-sama dengan laki-laki, dan biasanya hanya berada di halaman
2. Perempuan tidak diizinkan masuk Bait Allah selama 40 hari setelah melahirkan
3. Tidak diizinkan masuk ke Bait Allah ketika sedang menstruasi
3. Yesus juga menabrak tradisi yang tidak mengizinkan seorang Yahudi berbicara dengan perempuan Samaria, yang pada waktu itu secara etika politik melanggar rambu-rambu.
4. Yesus menyembuhkan perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun pada hari sabat, yang juga melanggar rambu-rambu pada saat itu, dimana seorang perempuan tidak boleh disentuh oleh laki-laki ketika pendarahan  
5. Dalam konteks perzinahan, yang disebut pezinah adalah perempuan. Yesus justru mengenakan asal zinah kepada laki-laki bukan hanya kepada perempuan. Ia mengatakan bahwa barangsiapa yang melihat perempuan lain dan menginginkan, ia telah berzinah.

Pelayanan Yesus didampingi oleh perempuan-perempuan, salah satunya adalah Maria Magdalena. Maria Magdalena adalah orang yang termarjinalkan dikalangan sosial pada saat itu. Ia berasal dari Magdala, daerah yang terletak di pesisir Galilea, tempat prostitusi yang secara politik tidak memiliki peran, apalagi  pengadilan untuk memberi kesaksian, tetapi Alkitab justru menceritakan kebangkitan Yesus pun disaksikan pertama kali oleh perempuan.

Diskusi:
Kepemimpinan Perempuan

Kepemimpinan perempuan dalam organisasi biasanya mendapat stigma perempuan lemah, perempuan lebih emosional dalam mengambil tindakan/keputusan. Stigma yang terbentuk tersebut turut mempengaruhi kepercayaan perempuan atas jati dirinya. Perempuan perlu meyakini kemampuan dirinya sendiri agar dapat turut serta dalam peran-peran strategis.

Kemerdekaan Tubuh
Perempuan sering menjadi object yang dipandang dengan stigma negatif ketika berpakain karena mencerminkan dirinya sendiri. Misalnya saja perempuan ketika menggunakan pakaian yang "rok mini" dianggap sebagai perempuan tidak baik. Rasul Paulus mengatakan, kemerdekaan tubuh adalah sejauh tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, sejauh masih berada  dalam janji atau komitmen untuk membangun. Jika dilanggar, saya telah membatasi kemerdekaan pasangan saya.

Perempuan dalam Relasi Romantis (Keluarga)
Harus dipahami bahwaYesus adalah Imam besar kita, maka semua orang adalah sama di hadapan-Nya. Kepala Rumah Tangga kristen ialah Yesus Kristus, namun pengelola rumah tangga adalah kesepakatan bersama (suami dan istri). 

Kita menggambarkan Tuhan sebagai figur laki-laki. Sebutan maskulin, tetapi Iapun merangkul pengalaman perempuan (Yesaya 42:14), Ia juga bersolidaritas dengan perjuangan-perjuangan perempuan.