Peranan Perguruan Tinggi Kristen dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Daya Saing Bangsa

29 Aug 2017 13:56:32 || Penulis:PENGURUS PUSAT


Jakarta - Jumat tanggal 25 Agustus 2017, Pengurus Pusat GMKI melaksanakan diskusi dengan tema “Peran Perguruan Tinggi Kristen dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan daya Saing Bangsa”. 

Sebagai narasumber dalam diskusi ini adalah Prof Dr. Thomas Pentury, M.Si. (Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI), Neil Semuel Rupidara, Ph.D. (Pembantu Rektor V/ Rektor Terpilih UKSW) dan Sahat Sinurat (Ketua Umum GMKI). 

Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, mengatakan bahwa pendidikan merupakan alat pembangun bangsa.

Ia menuturkan bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia khususnya Sekolah Tinggi Kristen masih berkutat pada akses pendidikan, mutu pendidikan dan tata kelola pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang masih profit oriented tetap menjadi kendala dalam penyelenggaraan pendidikan. Perlu dilakukan rekayasa proses dan standarisasi infrastruktur dalam pengelolahan pendidikan. 

Disisi lain, Neil Rupidara membahas mengenai produksi ilmu pengetahuan yang masih dikuasai oleh kampus-kampus diluar negeri. Kecenderungan saat ini, dunia pendidikan telah memasuki globalisasi ilmu pengetahuan yang tidak diimbangi oleh peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia harus segera beralih menjadi universitas riset yang dapat memproduksi pengetahuan secara melimpah sehingga mampu berpartisipasi dalam memberdayakan masyarakat serta meningkatkan daya saing bangsa. 

Ketua Umum GMKI, Sahat Sinurat menyebutkan bahwa kurangnya daya saing pemuda Indonesia karena perguruan tinggi kurang membekali mahasiswa dengan kemampuan vokasional sehingga mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya kurang memiliki kemampuan dan keahlian yang dapat langsung diaplikasikan. Regulasi di kampus yang membatasi mahasiswa untuk bergabung dengan organisasi mahasiswa, berdampak terhadap kurang kritisnya mahasiswa saat ini dalam menanggapi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat bahkan di kampusnya sendiri. Radikalisme dilingkungan kampus juga perlu diperhatian dengan serius, jangan seolah-olah menganggap itu hanya keadaan biasa-biasa saja. 

“Perguruan Tinggi Kristen juga seharusnya menjadi sumber penerang kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dalam mengentaskan kemiskinan, mengusahakan kesejahteraan dan menciptakan kedamaian” sambung Sahat.