ORANG MISKIN DAN KEMISKINAN

22 Sep 2017 14:52:13 || Penulis:PENGURUS PUSAT


disadur dari e-Book Spiritualitas GMKI 'pour la paix'
oleh : A . A. Yewangoe

Mrk.14:7; Yoh. 12:8

Perhatian terhadap orang miskin dan kemiskinan di dalam Alkitab cukup besar. Keadaan miskin bukanlah sesuatu yang diterima begitu saja. Sebaliknya sekuat mungkin diatasi. Perjanjian Lama mengindikasikan  bahwa Allah sangat prihatin dengan orang-orang miskin, sebagaimana sangat jelas dari peristiwa pembebasan dari Mesir. Di Mesir umat Israel telah mengalami kemiskinan yang pahit. 

Di dalam Ulangan 14:28-29 misalnya ditegaskan kepada umat bahwa pada akhir tiga tahun mereka harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanah mereka pada tahun itu dan menaruhnya di dalam kota. Maka orang-orang Lewi, karena mereka tidak mendapat bahagian milik-pusaka, dan orang-orang asing, anak yatim dan janda yang ada di dalam tempat mereka akan datang makan dan menjadi kenyang. Demikian juga ada yang disebut “Tahun Sabat” (setiap tujuh tahun) sangat bermakna penting. Kel. 23:6 misalnya sangat dilarang orang Israel memperkosa hak-hak orang miskin. Di sini prinsip keadilan dengan sangat jelas ditegaskan.

Yesus sendiri termasuk pada keluarga miskin sebagaimana nampak dari jenis persembahan ketika orang-tuanya menjalani ritus purifikasi di Yerusalem. Imamat 12:6-7 mencantumkan bahwa persembahan purifikasi itu terdiri dari domba atau burng merpati. Artinya, bagi yang kaya diminta mempersembahkan domba, sedangkan yang miskin burung merpati. Yusuf dan Maria pada waktu itu mempersembahkan burung merpati.

Ajaran Yesus juga sangat jelas memberi perhatian terhadap orang-orang miskin dan kemiskinan. Dengan mengutip Yesaya 61:1-2, Ia mengindikasikan bahwa Dia menyampaikan Kabar Baik kepada orang-orang miskin (Luk. 4:18-19). Di dalam seluruh Alkitab jelas sekali diindikasikan bahwa di hadapan Tuhan, baik yang kaya maupun orang miskin adalah setara. Amsal 22:1-32 mencatat: “Nama baik lebih berharga dari kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua adalah TUHAN.”

“Orang Miskin Selalu Ada Padamu.”

Markus 14:7,
    “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.”

Yoh.12:8, 
    “Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” 

Secara sepintas bunyi ayat-ayat ini dapat disalahfahami, seakan-akan Yesus Kristus ingin melestarikan orang miskin dan kemiskinan. Memang ayat ini sering juga disalahfahami di dalam kehidupan orang beriman. Adanya orang-orang miskin dianggap sebagai sebuah “keuntungan” sehingga ada obyek di mana tindakan bela rasa kita dapat diperihatkan. 

Apa lagi kalau belarasa itu diharapkan akan memperoleh “reward”, sebab bukankah ada janji itu? Kalau pemahaman ini yang dominan, maka akan tidak pernah ada upaya untuk memerangi kemiskinan. Lebih-lebih lagi orang tidak akan memikul resiko, apabila kemiskinan itu disebabkan oleh struktur sosial yang tidak adil. 

Sebagaimana sering terlihat orang terjebak di dalam kemiskinan karena telah terjadi proses pemiskinan yang berlangsung begitu lama yang dilakukan oleh yang kuat (powerfull) kepada yang lemah (powerless). Sabda Yesus ini dapat dirujuk sebagai alibi untuk tidak melakukan apa-apa. 

Apakah Yesus Kristus memang bermaksud begitu? Jawabannya jelas: Tidak. Ucapan Yesus Kristus ini mesti ditempatkan dalam konteks pengurapan Yesus di Baitania oleh “seorang perempuan” (dalam Markus) atau “Maria” (dalam Yohanes). Kita kurang tahu mengapa Markus tidak menyebutkan secara jelas nama perempuan itu. Tetapi bisa diduga bahwa Injil Yohanes yang ditulis belakangan mungkin baru “menemukan” nama perempuan itu dalam proses cerita lisan yang cukup lama itu. 

Tetapi hal itu kurang penting bagi kita. Yang penting, bahwa ada pengurapan itu, dan bahwa itu terjadi beberapa hari sebelum Paskah. Ada perbedaan juga, Markus mengisahkan bahwa perempuan itu mengurapi kepala Yesus (ayat 3), sedangkan Yohanes ke atas kaki Yesus (ayat 3).

Motivasi pengurapan itu sendiri adalah, 

“ia telah melakukan perbuatan baik” (Mrk.14:6), 

“...tubuhKu telah diminyaki  sebagai persiapan untuk penguburanKu” (Mrk.14:8). 

“Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu” (Yoh.12:7). Artinya ada persesuaian dari Injil-injil termasuk Matius 26:12. 

Jelas sekali perbuatan perempuan itu sangat berarti sebagai persiapan pemakaman. Ini menunjuk kepada Jumat Agung dan Paskah yang oleh gereja diyakini sebagai Pembebasan. 

Pembebasan ini sangat dalam artinya. Menolong orang miskin adalah juga pembebasan (dari kekurangan), tetapi dangkal saja kalau tidak dijabarkan dari Pembebasan Agung itu. Kepada para murid diserukan untuk “menolong orang miskin”, namun dimensi kedalamnnya hanya bisa terungkap apabila mengacu dan merujuk kepada Pembebasan Agung yang dicapai oleh pengorbanan Diri-Nya itu.

Dalam kenyataannya bisa saja terjadi bahwa yang dilakukan gereja tidak berbeda dengan yang dilakukan badan-badan sosial seperti LSM  dalam hal pemberantasan kemiskinan. Tetapi gereja menimba spiritualitas pembebasan kemiskinan itu dari Akta Besar Pembebasan itu.

Pertanyaan Refleksi
Ada seorang teolog dari Filipina yang mengusulkan agar Perumpamaan Orang Samaria Yang Murah Hati direinterpretasi. Fokusnya jangan hanya diarahkan kepada sang korban, tetapi bagaimana supaya tidak ada lagi korban-korban baru. Bagaimana tanggapan anda ?