Turunkan Harga Pangan!!! (In Memoriam Bang Pontas Nasution)

13 Nov 2017 18:11:51 || Penulis:PENGURUS PUSAT


GMKI.OR.ID - Pada 12 Januari 1966, para pelajar, pemuda dan mahasiswa melakukan aksi demo ke DPR-GR.  Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dengan Kesatuan Aksi Pelajar Pemuda Indonesia, (KAMI- KAPPI), menjadi motor dari demo itu. 3 tuntutan pun disampaikan oleh mereka:

  1. Pembubaran PKI dan Ormas-ormasnya
  2. Pembubaran Kabinet Dwikora; dan
  3. Turunkan harga pangan.

Tiga tuntutan itulah yang kemudian dikenal dan dicatat dalam sejarah Indonesia “ TRITURA” alias “Tiga Tuntutan Rakyat”.

 

Pada 21 Februari Bung Karno melakukan reschufle Kabinet. Karena tidak puas dengan komposisi Kabinet, mahasiswa melakukan aksi boikot pada 24 Februari dengan cara menghalang-halangi calon menteri yang hendak dilantik pada hari itu di jalan masuk menuju istana. Bung Karno marah dan pada 25 Februari 1966, KAMI dibubarkan.

 

Selanjutnya kita mengetahui perjalanan sejarah hingga keluarnya “supersemar” yang menghantar Jenderal Soeharto menjadi penguasa penuh dan menguasai Indonesia hingga dijatuhkan barisan reformasi pada 1998.

 

Satu hal yang tidak pernah kita ketahui adalah menyangkut konseptor TRITURA tersebut. Padahal  TRITURA itu merupakan magnit yang menghisap sukma  para demonstran untuk menyatukan tekad dan akad. TRITURA itu juga yg menjadi simbol perjuangan yang dikenal dengan Angkatan 66. TURA ketiga “Turunkan Harga Pangan”, menjadi simpul dan himpun harapan rakyat di masa itu dan tentu saja tetap relevan  dalam konteks kini dan nanti.

 

Di saat saya masih aktifis mahasiswa, saya beruntung dan bersyukur. Tanpa mengeluarkan biaya, malahan selalu di traktir dan dapat bercengkerama dengan pentolan di "belakang layar" dari angkatan 66.

 

Saat itu saya menjadi Ketua Cabang GMKI Jakarta, berbarengan dan sangat akrab dengan Busrah Zarnubi  Ketua HMI (kemudian hari jadi Ketum DPP Partai Bintang Reformasi) dan Abdul Kholik, Ketua PMII (kemudian Sekjen DPP PKB, saat Matori Abdul Jalil Ketum).

Kembali kepada konseptor TRITURA, melalui bincang-bincang dengan para senior itulah saya mengetahui dan kemudian mengkonfrontir dengan yang bersangkutan. Semula sangat enggan, tetapi karena beliau anggota GMKI dari Cabang Jakarta dan pernah menjadi Pengurus Pusat GMKI (Penulis Umum II masa bakti 1961-1963 dan salah seorang Ketua masa bakti 1963-1965) dan Ketum caretaker DPP GAMKI, saya jadi leluasa untuk terus menerus "mengorek" pengakuannya. Akhirnya, pada tahun 1987, beliau memanggil saya dan kemudian bercerita proses menuliskan konsep TRITURA itu. "Ya dek, saya tuliskan pakai tangan di atas sehelai kertas" dan ”Abangmu, senior GMKI Jakarta Adolf Warrior yang membacakan TRITURA itu"sambil menambahkan "tapi jangan kau bilang-bilang sama siapa-siapa ya” dipenuhi tawanya yang khas.

Ya, dialah yg merumus dan menuliskan TRITURA, Senior Abang terkasih “PONTAS NASUTION”. Meski saya tidak menanyakan, namun saat berjumpa dengan Bang Cosmas Batubara dan Bang Akbar Tanjung yang pada saat itu sebagai Menpora, ketika saya menyebut nama Bang Pontas, mereka agak terkejut dan begitu terkesima  menyampaikan salam dan hormat.

 

Selepas tahun 66, beliau pernah ditugaskan di PTP Sumut. Namun mundur karena tidak tahan dengan feodalisme di perkebunan. Tetapi di samping itu alasan yang lebih utama adalah "pengganyangan" atas orang-orang tidak bersalah,  dengan hanya “stigma” PKI dan apa tidak lacur, para pelakunya juga banyak orang-orang GAMKI Sumut, organisasi yang turut membesarkan dan dibesarkannya.

 

Dia "lari" dari Sumut dan kemudian mempersembahkan dirinya mengabdi di Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. Dia turut merancang dan melatih "Motivator Desa" ratusan orang di Cikembar Sukabumi pada tahun 70-80 an, yang aksn dikirim ke desa-desa terpencil.  Ia kemudian menjadi Direktur Akademi Leimena dan Bang Alex Litaay yang kemudian jadi Sekjen PDIP menjadi Sekretaris eksekutifnya. Akademi inilah yg menangani "Konferensi Gereja dan Masyarakat". Bersama Alm. Bapak Jenderal TB Simatupang dan seluruh pakar Kristen dari seluruh jurusan dikumpulkan untuk merumuskan konsep pembangunan bangsa, baik ekonomi, politik, IPTEK dan budaya.

 

"Keluarga bertanggungjawab" untuk mengisi nomenklatur Keluarga Berencana (KB) dan "Pancasila dari tepi menjadi Jantung" dan konsep-konsep yang mengisi Negara dan Gereja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Kaderisasi anak-anak muda bangsa menjadi bagian tersendiri dan keprihatinan yang luhur dalam pengabdiannya. Ia teramat sederhana, tetap naik bus dan bergaul dengan semua kalangan.

 

Bang Pontas tidak pernah kehilangan idealisme dengan sikap kritisnya. Ia kemudian membangun kekuatan untuk melawan Soeharto, meski dulu ia berperan menaikkannya. Bersama Matori Abdul Jalil, Letjen Harsudijono Hartas, Jakob Tobing, dengan restu Bapak Jenderal Eddy Sudrajat (saat itu Menhankam), ia mendirikan Barisan Nasional (Barnas) pada tahun 1987. Di sana ia menghimpun lintas agama, profesi dan generasi untuk bangkit melawan rejim Soeharto.

 

Saya juga bersyukur dapat mengenal para senior lain, terutama sahabat-sahabat yang sangat dekat dengan Alm. Soe Hok Gie, Bang "Boeli Londa" dan "Herman Lantang" yang dapat dikatakan sebagai "tiga serangkai" dalam ideologi, visi dan idealisme mereka yang sama.

 

Tidak ada yang tahu, mereka ini secara tidak langsung yang mendapat bocoran akan terjadi pembantaian habis-habisan apabila masa demo 66 bergerak ke Kantor Waperdam/Menlu Soebandrio. Di sana sudah disiapkan pasukan dengan segala persenjataan dan situasi untuk menghabisi para pendemo. "Barisan" Soe Hok Gie, Boeli Londa, Herman Lantang dan yang lain-lainnya, tanpa diketahui banyak pihak membelokkan arah masa  demo mengelilingi Monas.

 

Mungkin sejarah Indonesia akan lain sekiranya Bang Pontas Nasution tidak sanggup merumuskan konsep yang sangat inspiratif dan relevan, dan Soe Hok Gie cs tidak berhasil membelokkan arah pendemo 66 menuju Monas, pada saat itu.

 

Informasi di atas sungguh sangat saya percayai hingga kini, kecuali ada pembuktian dari para "pelaku" lainnya dan para sejarahwan sejati.

 

Kemarin saya mendengar berita, Bang Pontas Nasution telah diperkenankan Tuhan untuk beristirahat selamanya. Saya tidak dapat melayat secara fisik "deity misterion" yang memungkinkan relasi iman kami.Selamat berjumpa dengan Sang Khalik yang lebih mencintaimu.

 

Ah, teramat banyak belajar darimu Abang Pontas Nasution tercinta. Tetes air mata yang tertahan dalam kepenuhan bangga dan haru.

 

Halim-Kualanamu - P. Siantar - 121117
Oleh Pdt. Saut Sirait